Pendidikan
Hari Pendidikan Nasional, Sebaik Apa Literasi di Pedalaman Indonesia?

Pendidikan merupakan instrumen penting yang bisa mengantarkan seseorang agar memiliki kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Tujuan dari pendidikan ini tak hanya ilmu atau keterampilan saja, melainkan membekali seseorang agar bisa menjadi pembelajar seumur hidupnya.

Tahukah Anda, setiap tanggal 2 mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sekaligus bertepatan juga dengan hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara, pahlawan nasional yang juga dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Setiap perayaan Hardiknas selalu dicanangkan mengenai pentingnya memprioritaskan pendidikan. Tentu hal ini menjadi kabar yang baik bagi setiap orang. Terbukti beberapa program yang sudah dijalankan oleh pemerintah Indonesia untuk terus menciptakan pemerataan pendidikan serta meningkatkan kualitas pendidikan.

Sementara itu, untuk tema Hardiknas pada tahun ini adalah Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar. Kemudian untuk upacara sendiri akan dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku.

Kualitas Literasi di Indonesia

Berbicara mengenai pendidikan tentu sangat erat kaitannya dengan literasi.

Menurut Alberta, Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan keterampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Bisa disimpulkan bahwa makna literasi memang sangat luas. Literasi tentu tidak sesempit kemampuan untuk membaca dan menulis saja. Melainkan juga kemampuan bagaimana seseorang bisa mengolah suatu informasi baik itu lisan maupun tulisan, mengkritisinya, serta menyampaikannya kepada orang lain dalam berbagai bentuk. Bahkan, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan keterampilan membuat definisi ini terus berkembang dari waktu ke waktu.

Baca Juga : Masalah Pendidikan di Pedalaman

Apa Kabar Literasi di Indonesia?

Beberapa buku dipajang di salah satu booth di Jakarta, belum lama ini. Indonesia adalah yang terburuk kedua di antara 61 negara paling melek di dunia, hanya lebih tinggi dari Botswana. 

Sebuah riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) mengenai seberapa tinggi minat membaca dari negara-negara di dunia atau biasa disebut dengan Word’s Most Literate Nations, pada bulan maret 2016 mengungkapkan bahwa indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia juga mengungkapkan bahwa banyak anak di pedalaman Indonesia Timur harus menghadapi tantangan multisektoral, salah satunya adalah kesenjangan pendidikan dan kemampuan dasar.

Keterbatasan itulah yang membuat empat dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, terutama di Indonesia Timur memiliki tingkat literasi yang rendah, yakni Papua (36,1%), Nusa Tenggara Barat (16,48%), Sulawesi Barat (10,33%) dan Nusa Tenggara Timur (10,13%).

Rendahnya minat dalam membaca ini rupanya bukan disebabkan oleh ketidakmampuan anak, namun akibat sarana prasarana yang tidak memadai, seperti fasilitas ruang perpustakaan yang kurang memadai, bahkan di beberapa sekolah masih belum memiliki ruang perpustakaan. Hal tersebut linear dengan banyak anak menjadi sulit mengakses informasi melalui buku.

Misalnya saja seperti sekolah yang ada di Kampung Kewitu Nusa Tenggara Timur. Meski sudah berdiri selama 17 tahun lebih, kondisinya masih jauh dari kata memadai. Dinding-dinding kelas ini terbuat dari anyaman bambu dan mengalami kerusakan yang parah.

Selain itu, ketika hujan turun air akan masuk dengan begitu mudahnya. Hal tersebut membuat lantai sekolah yang hanya beralaskan tanah menjadi tergerus dan becek penuh dengan lubang.

proses-belajar-mengajar-di-pedalaman
Proses Belajar dan Mengajar di MIS Al-Amin (Kampung Kewitu, NTT)

Baca Juga : Realita Di Balik Minimnya Fasilitas Sekolah di Tanah Air

Sudah tentu fasilitas yang terdapat di sana pun masih sangat kurang. Belum lagi para guru hanya diberi upah Rp 200 ribu di setiap bulannya. Belum lagi fasilitas lain seperti perpustakaan dan juga sarana prasarana lainnya juga belum ada. Miris memang, tapi begitu lah. Di daerah lain masih banyak sekolah-sekolah yang masih kurang baik juga kondisinya. Padahal murid di sana begitu banyak potensi untuk berprestasi.

Berdasarkan hasil tes PISA (The Programme for International Student Assessment) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2016.

Jika dibandingkan negara-negara tetangga, tingkat literasi anak-anak dan orang dewasa di Indonesia sangat rendah. Kemampuan membaca, berhitung dan pengetahuan sains anak-anak Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Malaysia dan juga Thailand.

Rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi yang rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas bangsa. Lebih lanjut berujung pada rendahnya pertumbuhan dan akhirnya berdampak terhadap rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat.

Rendahnya kesejahteraan ini biasanya ditandai oleh rendahnya pendapatan per kapita. Terlihat bagaimana kondisi ekonomi yang ada di Pedalaman Indonesia masih banyak masyarakat menengah ke bawah yang masih membutuhkan bantuan.

Literasi rendah juga berkontribusi secara signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial. Oleh karena itu, perlu ada upaya-upaya khusus dari pemerintah untuk meningkatkan tingkat literasi Indonesia.

Upaya Mengatasi Rendahnya Kualitas Literasi

Sejauh ini beberapa upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi rendahnya literasi tersebut. Mulai dari merekrut guru-guru terbaik untuk mengajar sekolah di pedalaman. Dengan ini diharapkan bisa membantu para siswa di sana agar memiliki minat dalam belajar.

Selain itu, pemerintah juga meningkatkan anggaran untuk dana pendidikan seperti memberikan beasiswa bagi mereka yang memiliki ekonomi terbatas, mengatasi masalah gizi sedini mungkin (termasuk stunting), membangun dan meningkatkan infrastruktur pendidikan, serta membuat program wajib membaca bagi siswa dan siswi di sekolah.

Baca Juga: Mengenal Stunting Ciri, Dampak dan Cara Mencegahnya

Terlepas dari itu berbagai upaya tersebut masih mengalami kebuntuan. Terlihat tidak hanya di pedalaman saja. Bahkan di kota-kota besar kualitas literasi di negara ini masih kurang.


Upaya perbaikan literasi di Indonesia merupakan tanggung jawab semua pihak. Sahabat juga bisa memulainya dari diri sendiri. Mulai dari membiasakan membaca serta mengkritisi segala informasi yang kita terima.

Termasuk juga bisa membantu saudara kita yang berada di Pedalaman Indonesia agar memiliki fasilitas yang lebih memadai. Sahabat bisa memulainya dengan mengklik link berikut.