Ramadhan

Keutamaan Infaq yang Jarang Diketahui

infaq

Cerita tentang Adam dan Hawa yang ‘pindah’ ke Bumi dari surga menjadi cerita yang masyhur, khususnya bagi umat Islam.
Bukit tempat Adam dan Hawa bertemu pertama kali di dunia atau dinamai Jabal Rahmah bahkan diberi julukan bukit kasih sayang. Dari sana lah mereka berdua berjalan kaki menuju ka’bah untuk melaksanakan tawaf. Namun, di pertengahan jalan keduanya kelelahan, sehingga beristirahat dan tidur di Muzdalifah.

Setelah sadar mereka melanjutkan perjalanan untuk tawaf, sembari memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Sampai pada akhirnya pengalaman mereka kini diabadikan dalam ibadah haji yang dilaksanakan oleh umat muslim di seluruh dunia.

Bersedekah dengan Harta yang Dicintai

Berkaitan dengan cinta, manusia biasanya akan menaruh cinta tidak hanya kepada manusia lain. Namun, ada juga yang menaruhnya pada makhluk Allah SWT yang lain seperti hewan dan juga tumbuhan. Menaruhnya pada suatu tempat, barang (harta), hingga pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan.
Berita baiknya adalah apabila kita menyedekahkan harta yang kita cintai maka insyaAllah akan mendapatkan kebaikan yang sempurna, sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS Ali-Imran: 92):

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.”
(QS Al-Imran:92)

Bahaya Meninggal dalam Kekufuran

Untuk memahami ayat tersebut kita dapat melihat pada ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa orang yang meninggal dalam kekufuran, maka sebesar apapun harta dan infak yang mereka berikan, tidak bisa dijadikan terusan agar mereka bebas dari azab Allah SWT. Pada ayat ini dijelaskan juga tentang harta yang manusia cintai, yang paling bagus dari apa yang dimiliki.

Lalu, apapun yang manusia infaqkan, tentang hal tersebut, sungguh, Allah Maha Mengetahui niat dan tujuan manusia berinfak. Apalah karena ingin dipuji atau dilihat orang (riya), ingin dipuji orang yang mendengar (sum’ah), atau semata-mata karena Allah. Jika infak dilaksanakan hanya karena Allah maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan baik di dunia maupun akhirat.

Sebagai seorang muslim, tidak lengkap rasanya keimanan kita jika tanpa mengorbankan apa yang kita cintai. Seperti kisah Nabi Ibrahim A.S yang mengorbankan anaknya sendiri Nabi Ismail, A.S sebagai bentuk ketaatan terhadap Allah SWT. Semakin besar pengorbanan yang kita lakukan, entah dengan jiwa, raga, atau harga, semakin besar juga keimanan kita kepada Allah SWT.

Pengertian Infaq

Jika dilihat secara umum, infaq berasal dari kata anfaqa-yunfiqu yang berarti mengeluarkan atau membelanjakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa infaq adalah mengeluarkan harta yang mencakup zakat dan non-zakat. Sementara itu, menurut syariat justru mengatakan, infaq adalah mengeluarkan sebagian harta atau pendapatan (penghasilan) untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh ajaran Islam.

Nah, Sahabat setelah kita mengetahui tentang sejarah, pengertian dan makna infaq. Bagaimana, tertarikkah Anda untuk melaksanakan infaq tersebut? Ohiya, namun bagi sebagian dari kita ada yang masih belum mengetahui mengenai syarat-syarat dan juga tata caranya, untuk itu berikut dijelaskan mengenai rukun-rukun dari infaq itu sendiri.

Bagaimana Caranya Berinfaq?

Islam mengajarkan dalam setiap ibadah dan amalan yang dilakukan oleh seorang muslim adanya unsur-unsur yang harus harus dipenuhi. Pemenuhan unsur-unsur tersebut bertujuan agar amalan yang diperbuat diterima oleh Allah SWT. Unsur-unsur tersebut biasanya kita sebut dengan nama rukun.
Sebagaimana ditulis oleh Abd Al-Rahman Al-Jazairi dlama Al-Fiqih ‘Ala Al-Madzahib Al-‘Arba’ah, setidaknya ada empat rukun infaq diantaranya:

1. Penginfaq

Komponen utama yang harus dipenuhi agar dapat disebut sebagai ibadah infaq adalah penginfaq. Orang yang berinfaq juga harus memenuhi beberapa syarat diantaranya; memiliki sesuatu yang harus diinfakkan; bukan dibatasi haknya karena suatu alasan; penginfaq harus orang dewasa; tidak adanya paksaan, karena infaq adalah akad yang mensyaratkan keridaan dan keabsahan.

2. Penerima Infaq

Kedua mereka yang akan diberi infaq. Syaratnya yaitu benar-benar ada wujudnya; dewasa atau baligh. Dengan menggunakan dengan.

3. Harta yang Di Infaqkan

Ada begitu banyak hal yang bisa kita infaqkan. Salah satunya adalah barang atau harta, karena jika tidak ada hal tersebut apa yang akan infakan. Namun, tetap ada syarat yang harus dipenuhi juga yaitu:

  • Barang atau harta yang akan kita infaqkan benar-benar ada;
  • Harta tersebut memiliki nilai;
  • Bisa dimiliki keberadaannya;
  • Kemudian yang terakhir, tidak berhubungan dengan tempat miliki penginfaq.

4. Ada Ijab dan Kabul

Unsur lain yang tidak kalah penting yang perlu diperhatikan, agar infaq tersebut menjadi sah adalah, adanya ijab dan kabul, serah dan terima. Sehingga, ada kejelasan baik terhadap pemberi infaq, penerima infaq maupun harta atau barang yang akan diberikan. Sebagai contoh harta tersebut dapat berupa uang tunai.

Pahala Bagi Mereka yang Gemar Berinfaq

Jika dipandang secara logika, harta yang kita infakkan itu berkurang. Akan tetapi, sebenarnya justru tidak. Ya, penglihatan manusia memang terbatas kita hanya bisa melihat dan mempersepsi apa yang masih dalam jangkauan kita saja.

Tenang, Sahabat. Bagi kalian yang gemar berinfaq, jangan khawatir karena Allah SWT akan melipatgandakan pahala mereka yang gemar berinfaq dan menyisihkan hartanya untuk manusia lain. Jika diumpamakan, maka perumpamaan orang-orang yang berinfaq di jalan Allah SWT itu seperti firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 261:

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui

Sebagaimana dalam tafsir Ibnu Katsir. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Hal ini juga merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah subhanahu wa ta’la untuk menggambarkan pelipatgandaan pahala bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya. Setiap amal kebaikan itu akan dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat, sampai kepada tujuh ratus kali lipat.

Yang Dimaksud dengan Jalan Allah

Untuk itu, Allah SWT berfirman dengan ayat tersebut (QS Al-Baqarah: 261). Yang maksud dengan “jalan Allah” menurut Sa’id Ibnu Jubair ialah dalam rangka taat kepada Allah SWT. Sementara itu, menurut Makhul, yang dimaksud dengan ‘jalan Allah’ ialah menafkahkan hartanya untuk keperluan berjihad, seperti mempersiapkan kuda dan senjata serta lain sebagainya untuk tujuan berjihad.

Syabib ibnu Bisyr meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa menafkahkan harta untuk keperluan jihad dan ibadah haji pahalanya dilipatgandakan sampai tujuh ratus kali lipat. Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya: serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. (Al-Baqarah: 261).

Perumpamaan ini lebih berkesan dalam hati daripada hanya menyebutkan sekedar bilangan tujuh ratus kali lipat, mengingat dalam ungkapan perumpamaan tersebut tersirat pengertian bahwa amal-amal saleh itu dikembangkan pahalanya oleh Allah SWT bagi para pelakunya, sebagaimana seorang petani menyemaikan benih di lahan yang subur.

Sunnah telah menyebutkan adanya perlipatgandaan tujuh ratus kali lipat ini bagi amal kebaikan. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnur Rabi’ Abu Khadafi, telah menceritakan kepada kami Wasil maula Ibnu Uyaynah, dari Basysyar ibnu Abu Saif Al-Jurmi, dari lyad ibnu Gatif yang menceritakan bahwa kami datang ke rumah Abu Ubaidah dalam rangka menjenguknya karena ia sedang mengalami sakit pada bagian lambungnya.

Saat itu istrinya bernama Tuhaifah duduk di dekat kepalanya. Lalu kami berkata, “Bagaimanakah keadaan Abu Ubaidah semalam?” Tuhaifah menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya dia menjalani malam harinya dengan berpahala.” Abu Ubaidah menjawab, “Aku tidak menjalani malam hariku dengan berpahala.” Saat itu Abu Ubaidah menghadapkan wajahnya ke arah tembok, lalu ia menghadapkan wajahnya ke arah kaum yang menjenguknya dan berkata, “Janganlah kalian menanyakan kepadaku tentang apa yang telah kukatakan.”Mereka berkata, “Kami sangat heran dengan ucapanmu itu, karenanya kami menanyakan kepadamu, apa yang dimaksud dengannya?” Abu Ubaidah berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang membelanjakan sejumlah kelebihan hartanya di jalan Allah, maka pahalanya akan dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali.

Kaitannya dengan Puasa di Bulan Ramadhan

infaq memiliki begitu banyak keutamaan apalagi menjelang bulan Ramadhan
Berbagi kebahagiaan di bulan Ramadhan.

Dan barang siapa yang membelanjakan nafkah buat dirinya dan keluarganya atau menjenguk orang yang sakit atau menyingkirkan gangguan (dari jalan), maka suatu amal kebaikan (pahalanya) sepuluh kali lipat kebaikan yang semisal. Puasa adalah benteng selagi orang yang bersangkutan tidak membobolnya. Dan barang siapa yang mendapat suatu cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala pada tubuhnya, maka hal itu baginya merupakan penghapus (dosa). Imam An-Nasai meriwayatkan sebagian darinya dalam Bab “Puasa” melalui hadits yang berpredikat mausul, sedangkan dari jalur lain berpredikat mauquf. Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sulaiman, bahwa ia pernah mendengar Abu Amr Asy-Syaibani menceritakan hadits berikut dari Ibnu Mas’ud, bahwa ada seorang lelaki menyedekahkan seekor unta yang telah diberi tali kendali, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya kamu akan datang di hari kiamat nanti dengan membawa tujuh ratus ekor unta yang telah diberi tali kendali. Imam Muslim dan Imam An-Nasai meriwayatkannya melalui hadits Sulaiman ibn Mihran, dari Al-A’masy dengan lafal yang sama.

#1-Hadist Imam Muslim

Lafal menurut riwayat Imam Muslim seperti berikut: Seorang lelaki datang dengan membawa seekor unta yang telah diberi tali kendali, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, unta ini untuk sabilillah.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu kelak di hari kiamat akan mendapatkan tujuh ratus ekor unta karenanya.” Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan: telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Majma’ Abul Munzir Al-Kindi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Hijri, dari Abu Nawas, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya Allah menjadikan suatu amal kebaikan anak Adam menjadi sepuluh kali lipat sampai dengan tujuh ratus kali lipat pahala kebaikan, selain puasa.

Puasa (menurut firman Allah subhanahu wa ta’ala) adalah untuk-Ku, Akulah yang membalasnya (secara langsung). Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan; satu kegembiraan di saat ia berbuka, dan kegembiraan yang lain (diperolehnya) pada hari kiamat. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada minyak misik (kesturi). 

#2-Hadist Imam Ahmad

Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Semua amal (kebaikan) anak Adam dilipatgandakan, suatu amal baik menjadi sepuluh kali lipat pahala kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat, dan sampai bilangan yang dikehendaki oleh Allah.

Allah berfirman, “Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku, Akulah yang akan membalasnya (secara langsung); orang yang puasa meninggalkan makan dan minumnya karena demi Aku.” Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan; satu kegembiraan di saat ia berbuka, dan kegembiraan yang lain di saat ia bersua dengan Tuhannya. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang puasa itu lebih wangi di sisi Allah (menurut Allah) daripada minyak kasturi.

Puasa adalah benteng, puasa adalah benteng. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah dan Abu Sa’id Al-Asyaj, keduanya meriwayatkan hadits ini dari Waki’ dengan lafal yang sama. Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa: telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Ali, dari Zaidah, dari Ad-Dakin, dari Bisyr ibnu Amilah, dari Harim ibnu Fatik yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa yang membelanjakan sejumlah harta di jalan Allah, maka pahalanya dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat.

#3-Hadist Imam Abu Dawud

Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud; telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnus Sarh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Yahya ibnu Ayyub dan Sa’id ibnu Abu Ayyub, dari Zaban ibnu Faid, dari Sahl ibnu Mu’az, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya shalat, puasa, dan zikir dilipatgandakan pahalanya menjadi tujuh ratus kali lipat di atas membelanjakan harta di jalan Allah. Hadits lain diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Abdullah ibnu Marwan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, dari Al-Khalil ibn Abdullah ibn Hasan, dari Imran ibnu Husain, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Barang siapa yang mengeluarkan nafkah (perbelanjaan) di jalan Allah, lalu ia tinggal di dalam rumahnya, maka baginya dari setiap dirham (yang telah dibelanjakannya) menjadi tujuh ratus dirham di hari kiamat. Dan barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu ia membelanjakan hartanya untuk tujuan itu, maka baginya dari setiap dirham (yang telah dibelanjakannya menjadi) tujuh ratus ribu dirham.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman-Nya: Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. (Al-Baqarah: 261) Hadits ini gharib. Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadits Abu Usman An-Nahdi, dari Abu Hurairah yang menceritakan tentang pelipatgandaan suatu amal kebaikan sampai menjadi dua ribu kali lipat kebaikan, yaitu pada firman-Nya: Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (Al-Baqarah: 245), hingga akhir ayat. Hadits lain diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih; telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ubaidillah ibnul Askari Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali ibnu Syabib, telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Khalid Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Isa ibn al Musayyab, dari Nafi dari Ibnu Umar.

Disebutkan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. (Al-Baqarah: 261), hingga akhir ayat. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Tuhanku, tambahkanlah buat umatku.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik. (Al-Baqarah: 245) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berdoa, “Ya Tuhanku, tambahkanlah buat umatku.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az-Zumar: 10) Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya, dari Hajib ibnu Arkin, dari Abu Umar (yaitu Hafs ibnu Umar ibnu Abdul Aziz Al-Muqri), dari Abu Ismail Al-Muaddib, dari Isa ibn al Musayyab, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, lalu ia mengetengahkan hadits ini.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. (Al-Baqarah: 261) Yakni sesuai dengan keikhlasan orang yang bersangkutan dalam amalnya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 261) Artinya, anugerah-Nya Maha Luas lagi banyak, lebih banyak daripada makhluk-Nya, lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat pahala yang berlipat ganda dan siapa yang tidak berhak. Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya.”

Nah, Sahabat itu tadi penjelasan yang cukup panjang mengenai keutamaan dari ibadah infaq. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan kesempatan agar dapat terus beribadah untuk menggapai ridho-Nya. Aamiin