Kesehatan

3 Alasan Kenapa Anak di Pedalaman Berisiko Kena Corona

resiko anak pedalaman terkena corona

Wabah virus corona semakin menyebar di Indonesia. Kasus positif Corona meningkat dengan cepat dari waktu ke waktu. Sahabat juga pasti masih ingat, beberapa waktu yang lalu para tenaga medis gugur karena keganasan virus corona. Perasaan was-was, khawatir, dan takut bercampur menjadi satu melihat kondisi yang terjadi saat ini.
Namun, apakah Sahabat tahu?

Walaupun belum ada yang terinfeksi, anak-anak di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi tertular virus corona karena keterbatasan dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Berikut ulasannya:

1. Akrab dengan Gizi Buruk

anak mengalami gizi buruk

Gizi buruk menjadi teman baik bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur. Prevalensi gizi buruk di NTT  menduduki peringkat kedua di Indonesia yaitu sebesar 29,5 % atau tiga dari sepuluh balita di sana mengalami gizi buruk. Tidak hanya itu, sahabat. Stunting juga jadi permasalahan yang tidak kunjung selesai, sebesar 42,6 % prevalensinya. Menempatkan NTT sebagai provinsi dengan jumlah stunting terbesar di Indonesia. Gizi buruk dan stunting menyebabkan kondisi imunitas melemah, sehingga berpotensi untuk masuknya berbagai macam penyakit, termasuk virus corona.

Baca Juga : Tips Aman Beribadah di Tengah Corona

2. Sulit Menjaga Kebersihan

anak-anak sulit menjaga kebersihan

Demi mencegah corona, banyak imbauan yang kita dapatkan untuk selalu menjaga kebersihan, rajin mencuci tangan, dan merawat lingkungan. Anak-anak di NTT justru sebaliknya, memiliki kebiasaan yang berlawanan. Mereka terbiasa tidak memakai alas kaki ketika pergi ke suatu tempat. Mereka juga jarang mencuci tangan dan mandi karena kesulitan mendapatkan air bersih. Lingkungan tempat tinggalnya pun juga tidak mendukung. Di NTT, sanitasinya masih cenderung buruk, itu membuat semakin susah menjaga kebersihan di sana.

Baca Juga : Pesan Tersirat Warga NTT dalam Menghadapi Corona

3. Kurangnya Fasilitas Kesehatan

fasilitas kesehatan yang kurang memadai

Bagi masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah, kesehatan sudah menjadi ‘barang mahal’. Mereka lebih memilih menjalani pengobatan tradisional ketika sakit daripada dirawat di rumah sakit. Selain terkendala biaya, akses menuju lokasi yang jauh juga menjadi pertimbangan. Apalagi, masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terpencil atau di daerah yang pelosok, butuh waktu lama dan biaya yang tidak sedikit untuk bisa mencapai rumah sakit yang terletak di kota. 

Bantu Pejuang Keluarga Terlindungi dari Covid-19

3 faktor utama yang harusnya bisa menjadi langkah pencegahan virus corona, tapi nyatanya sangat sulit dimiliki masyarakat pedalaman. Saling tolong menolong meski kita #diRumahAja. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk ambil peran. Tentu saja kita semua berharap agar diberikan perlindungan oleh Allah dari segala marabahaya, khususnya virus corona. Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya, Sahabat. Semoga wabah ini segera berakhir dan kita dapat menjalani aktivitas seperti biasanya. Amiinn.

sedekah subuh untuk pedalaman Indonesia