Kisah Pedalaman
Kisah Dua Anak Sekuat Baja dari Pedalaman
anak-yatim-pedalaman

Anak pertama haruslah sekuat baja, setegar karang, menjadi panutan bagi adik-adiknya..”

Menjadi anak sulung bukanlah perkara mudah, ia harus menjadi teladan bagi adik-adiknya. Ia wajib menjadi contoh yang baik dan bertanggung jawab atas mereka. Meskipun tanggung jawab terbesar tetaplah di orang tua, tapi terkadang anak sulung diberikan tugas untuk menjaga dan memastikan adik-adiknya baik-baik saja.

Nah, Sahabat. Bagaimana jika anak sulung ini harus hidup sendiri tanpa orang tua? Harus menanggung beban berkali-kali lebih besar dari biasanya. Itulah yang dirasakan oleh Sadiyah dan Umi, dua anak sulung dari pedalaman yang harus berjuang demi adik-adiknya. Yuk, simak kisah mereka berikut ini :

Baca Juga : Jejak Kebaikan di Pedalaman

Sadiyah, Berjuang Demi Dua Adik Tercinta

sadiyah-anak-yatim-pedalaman

Jika ada yang memberikan gelar sebagai ‘Anak Tangguh’, maka Sadiyah pantas menjadi salah satu yang mendapatkannya. Gadis muda asal Kampung Nunang, Desa Biting, Kabupaten Manggarai Timur, NTT ini harus berjuang seorang dirinya semenjak kedua orang tuanya tiada. Ayahnya meninggal di tahun 2015 sementara ibunya meninggalkan mereka pada tahun 2011 lalu.

Padahal, ia masih punya dua adik yang masih bersekolah, yaitu Abdur dan Fauzan. Tentu saja, mereka membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, Sadiyah tidak menyerah begitu saja dengan keadaan. Kemauannya yang besar membuatnya bekerja banting tulang demi kedua adik-adiknya.

Sadiyah memungut kemiri demi kemiri untuk ia jual kembali, bahkan ia juga tidak malu membersihkan kebun tetangganya agar mendapatkan uang agar bisa membiayai pendidikan adik-adiknya.

adik-sadiyah-anak-yatim-pedalaman

Setiap kali ingin menyerah, Sadiyah selalu teringat pesan Almarhum ayahnya. Beliau berwasiat jika kedua adiknya harus bisa menjadi penghafal Alquran. Saat ini adiknya yang pertama, Fauzan sedang berjuang menjadi santri penghafal Alquran di salah satu pesantren di Jawa Timur. Sedangkan adiknya yang lain, Abdur, saat ini duduk di kelas II Madrasah Tsanawiyah.

Sahabat bisa menyimak kisah Sadiyah di sini.

Nurmiyati, Pahlawan Untuk Keempat Adiknya

umi-anak-yatim-pedalaman

Masa remaja adalah masa-masa yang menyenangkan. Saat di mana bisa bermain dengan teman-teman dan mencoba hal baru. Namun, hal itu tidak berlaku pada Nurmiyati alias Umi, gadis berusia 15 tahun asal Alor, NTT.

Ibunya sudah lama tiada sejak ia melahirkan adik bungsunya. Namun, adiknya juga meninggal dunia akibat kurang gizi. Umi pun harus berperan sebagai ibu untuk ketiga adik-adiknya.

Sang ayah berprofesi sebagai ojek gunung dengan penghasilan Rp500.000 per bulan. Jika ayahnya pergi bekerja, Umi lah yang menjaga rumah dan mengurus adik-adik serta neneknya.

Di usia yang masih belia, Umi mengerjakan pekerjaan layaknya orang dewasa. Namun, ia sama sekali tidak menyerah. Melihat senyuman Rama, Zul, dan Jamal selalu dapat membangkitkan semangatnya. Ia ingin membantu adik-adiknya agar bisa sekolah setinggi mungkin, sesuai dengan harapan ayah mereka.

Klik di sini untuk membaca kisah Umi lebih lengkap

Sahabat, dari kedua gadis Tangguh di atas kita belajar tentang makna perjuangan dan kerja keras. Bahwa di tengah kondisi yang seakan tidak memihak mereka , Sadiyah dan Umi tetap menjadi anak yang setegar karang dan sekuat baja. Sahabat bisa menemani perjuangan mereka dan anak-anak pedalaman lain di sini.