Banyak yang mengenal Labuan Bajo sebagai pariwisata premium, tiap tahun ribuan turis mancanegara memenuhi lokasi wisata di Labuan Bajo. Namun, tidak banyak yang tahu jika dalam jarak 14 kilometer melalui perjalanan laut dari Labuan Bajo, ada pulau kecil bernama Pulau Boleng. Sangat kontras dengan gemerlapnya Labuan Bajo, warga di pulau banyak hidup dalam keterbatasan.
Di pulau kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota itu, anak-anak bahkan harus melintasi laut unuk pergi sekolah karena baru ada Sekolah Dasar (SD) di sana. Saat ini, Sekolah Menengah Pertama (SMP) pertama sudah berdiri di sana. Setiap pagi, semangat yang tinggi terpancar dari anak-anak yang datang untuk menuntut ilmu. Di antara anak-anak yang berlarian kecil menuju kelas, hadir Mahendra atau yang akrab disapa Pak Mahe, seorang guru sekaligus kepala sekolah di MTs Tujuh Tangkai Pulau Boleng.

Sembari mengawasi murid-muridnya memasuki ruang kelas, Pak Mahe bercerita pada kami bahwa beberapa anak terpaksa absen hari itu karena ombak laut sedang tinggi. Bagi anak-anak di Pulau Boleng, perjalanan menuju sekolah bukanlah perkara mudah. Mereka harus menyeberangi lautan menggunakan perahu kecil setiap pagi, lalu menempuh jalur yang sama untuk kembali ke rumah.
Ketika cuaca memburuk, perjalanan tersebut menjadi terlalu berisiko untuk dilalui. Keinginan untuk belajar pun harus tertunda, sebab keselamatan menjadi hal yang utama. Pak Mahe dan guru-guru di sana pun tak bisa berbuat banyak.

Berapapun anak yang hadir hari itu, Pak Mahe tetap mengajar mereka dengan setulus hati. Baginya, mengajar adalah bentuk pengabdiannya untuk memastikan anak-anak di Pulau Boleng tetap mendapatkan hak mereka atas pendidikan. Pak Mahe telah menjalani peran itu selama empat tahun terakhir, sejak MTs Tujuh Tangkai pertama kali didirikan pada 2022 silam.
Merintis Sekolah di Tengah Keterbatasan
Pak Mahe masih mengingat betul proses panjang dibalik berdirinya MTs Tujuh Tangkai. Sekolah ini berawal dari inisiatif Abdul Karim, tokoh masyarakat Pulau Boleng yang prihatin karena belum tersedianya sekolah menengah di pulau tersebut.
Berangkat dari kepedulian itu, Pak Abdul Karim mengajak warga untuk menghibahkan tanah ulayat yang kemudian digunakan sebagai lokasi pembangunan sekolah. Upaya ini diharapkan dapat membuka kesempatan bagi anak-anak Pulau Boleng untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah dasar tanpa harus menyeberang ke Labuan Bajo.
Setelah bangunan sekolah berdiri, Pak Mahe bergabung sebagai salah satu guru pertama yang mengajar di MTs Tujuh Tangkai. Ia mengawali pengabdiannya bersama empat guru lainnya, yakni Suratman, Farida, Fitri Wulandari, dan Sri Hartati.
Saat pertama kali didirikan, sekolah ini hanya memiliki satu ruang kelas yang menumpang di gedung sekolah dasar setempat. Kondisi tersebut membuat kegiatan belajar mengajar baru bisa berlangsung pada siang hari, setelah ruang kelas selesai digunakan oleh para siswa sekolah dasar.
Keterbatasan fasilitas juga menjadi bagian dari keseharian mereka. Selama beberapa tahun, para murid harus belajar dengan duduk lesehan karena sekolah belum memiliki meja dan kursi. Bahkan papan tulis saja baru tersedia dalam beberapa waktu terakhir.
Perjuangan Pak Mahe dan para guru juga tak berhenti di ruang kelas. Saat MTs Tujuh Tangkai pertama kali berdiri, mereka juga bergotong royong membersihkan lahan yang akan digunakan sebagai area sekolah. Kawasan sekolah yang berada di tengah perkebunan membuat area tersebut masih dipenuhi rumput liar dan ilalang yang tumbuh tinggi.
Di sela-sela kesibukan mengajar, mereka meluangkan tenaga untuk menata lingkungan sekolah agar lebih layak digunakan sebagai tempat menimba ilmu. Semua itu mereka lakukan secara sukarela demi menghadirkan ruang belajar yang nyaman bagi anak-anak Pulau Boleng.
Mendengar cerita Pak Mahe membuat kami ingin bertemu langsung dan mengenal lebih dekat guru-guru lain yang turut berjuang di MTs Tujuh Tangkai. Pak Mahe kemudian mengajak kami menemui Bu Fitri dan Bu Sri yang pagi itu tengah bersiap mengajar di ruang kelas masing-masing.
Bu Fitri, guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bercerita pada kami tentang tantangan yang harus dihadapi saat mengajar. Keterbatasan buku paket dan alat peraga membuatnya harus mencari cara lain agar materi pengetahuan alam yang ia ajar tetap dapat dipahami oleh anak-anak. Sedangkan akses internet yang terbatas di Pulau Boleng juga membuatnya kesulitan mencari referensi tambahan untuk menunjang pembelajaran di kelas.
Tantangan serupa dirasakan Bu Sri yang mengajar Bahasa Inggris. Minimnya fasilitas buku paket menjadi salah satu kendala dalam mendampingi murid-muridnya mengenal bahasa asing. Di luar persoalan fasilitas, Bu Sri juga menyoroti masih rendahnya kesadaran sebagian orang tua akan pentingnya pendidikan. Akibatnya, belum semua anak di Pulau Boleng mendapatkan kesempatan untuk bersekolah.
Minimnya Fasilitas Pendidikan di Pulau Boleng
Persoalan pendidikan di Pulau Boleng rupanya tak berhenti pada keterbatasan fasilitas dan kesulitan yang dihadapi para guru di ruang kelas. Pak Mahe kembali bercerita bahwa hingga hari ini belum ada sekolah tingkat menengah atas di pulau tersebut. Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat menengah pertama, anak-anak harus meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan sekolah ke luar pulau. Sebagian lainnya memilih langsung bekerja karena berbagai keterbatasan yang mereka hadapi.

Sebelum MTs Tujuh Tangkai berdiri, keadaan bahkan lebih sulit. Tak sedikit anak yang memilih meninggalkan Pulau Boleng setelah lulus sekolah dasar, tanpa sempat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Hal itu yang semakin menguatkan tekad Pak Mahe untuk terus mengajar di Mts Tujuh Tangkai. Baginya, kehadiran MTs ini menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan akses pendidikan kepada anak-anak di Pulau Boleng agar mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk terus belajar.
Semangat Para Guru Pelosok untuk Terus Bertumbuh
Di balik ketulusannya mendidik anak-anak di pelosok, Pak Mahe juga merupakan sosok yang tak lelah untuk terus bertumbuh. Baginya, proses belajar tidak hanya menjadi bagian perjalanan murid, tetapi juga para guru yang mendampingi mereka. Semangat itu terlihat dari antusiasmenya saat mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas guru yang diselenggarakan Insan Bumi Mandiri bersama Kredivo dan Kitabisa bagi para guru di pelosok Pulau Boleng.
Dalam kesempatan tersebut, Pak Mahe bercerita bahwa tantangan mengajar di pelosok bukan hanya berkaitan dengan keterbatasan sarana dan prasarana, tetapi juga minimnya kesempatan bagi para guru untuk meningkatkan kapasitas diri dan mengembangkan keterampilan mengajar.
Maka saat kesempatan untuk belajar itu hadir, para guru ini benar-benar memanfaatkannya untuk memperluas wawasan dan mengenal pendekatan baru yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.
Melalui proses belajar yang terus dijalani, Pak Mahe berharap dapat mengembangkan kemampuan sebagai pendidik dan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi anak-anak di Pulau Boleng.

Dan hal itulah yang akan terus Pak Mahe lakukan. Hari ini, esok, dan seterusnya, Pak Mahe akan terus datang ke sekolah, mendidik dan mempersiapkan generasi masa depan dalam pengabdiannya yang sunyi dan penuh rintangan.
Pagi itu, lonceng kelas berbunyi. Anak-anak sudah bersiap untuk menimba ilmu dari guru-guru hebat ini. Dari sudut-sudut kelas di pelosok Pulau Boleng, masa depan yang lebih baik untuk anak-anak ini tengah diperjuangkan.
Tentang Insan Bumi Mandiri
Insan Bumi Mandiri (IBM) merupakan sebuah lembaga filantropi yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat untuk membangun pedalaman Indonesia. Berdiri sejak 2016, IBM telah berhasil menyelenggarakan 1.004 program dan membantu lebih dari 163.792 masyarakat pedalaman Indonesia. Kami selalu percaya, langkah kecil bersama anda, #PartnerKebaikan, akan mendatangkan kebaikan untuk saudara-saudara kita di pedalaman. Berbagai persoalan, seperti akses transportasi, infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan bisa kita benahi bersama. Informasi lengkap bisa dilihat di insanbumimandiri.org