Tentang IBM

Dari Kelas Sederhana, Anak-Anak Pesisir Gotowasi Belajar Menyapa Dunia

Deburan ombak yang berpadu dengan hijaunya hutan mangrove di Gotowasi mengiringi riuh suara anak-anak pesisir yang bermain di tepi pantai. Menjelang sore, hamparan pasir putih menjadi tempat mereka menghabiskan waktu sepulang sekolah. Sedangkan sebagian lainnya memilih untuk membantu orang tua, mulai dari menyiangi kebun hingga ikut melaut mencari ikan.

Desa Gotowasi di Maluku Utara menyimpan kekayaan alam yang begitu beragam. Cengkeh, pala, dan kelapa menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 70% masyarakatnya. Desa ini juga memiliki kawasan hutan mangrove terbesar di Maluku Utara yang menjadi habitat beragam ikan dan biota laut, sekaligus membantu nelayan memperoleh hasil tangkapan tanpa harus melaut terlalu jauh. Belum lagi, potensi rumput laut serta warisan budaya dan sejarah yang masih menyimpan banyak cerita untuk dikenalkan kepada dunia.

Di antara kekayaan itu, Nurul Jannah Hardi, atau akrab disapa Jannah, seorang anak muda asal Desa Gotowasi, melihat potensi besar yang dimiliki desanya. Namun, ia juga menyadari bahwa kekayaan alam saja tidak cukup untuk membawa desanya berkembang. Anak-anak dan generasi muda membutuhkan akses pengetahuan serta ruang belajar yang dapat membantu mereka untuk tumbuh, sesuatu yang menurut Jannah belum ada di Gotowasi.

Kesadaran itulah yang kemudian mengantarkan Jannah bersama rekan-rekan sedaerahnya untuk mendirikan Sekolah Pesisir, sebuah ruang belajar informal bagi anak-anak usia sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pemuda setempat. Kini, perjalanan Jannah dalam mengembangkan Sekolah Pesisir semakin diperkuat melalui dukungan BAZNAS dan Insan Bumi Mandiri (IBM) lewat Program Beasiswa Pendidikan yang berlangsung selama satu tahun. Program ini berfokus pada penguatan kemampuan Bahasa Inggris untuk pariwisata serta pengembangan keterampilan pemuda dalam mengelola potensi pariwisata desa. Melalui dukungan ini, Sekolah Pesisir diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda Gotowasi untuk mengembangkan kemampuan diri sekaligus mempersiapkan mereka mengambil peran dalam mengenalkan potensi desa kepada lebih banyak orang.

Pada awal berdirinya, Sekolah Pesisir memulai kegiatan dengan mengadakan kelas Bahasa Inggris bagi anak-anak kelas tiga hingga kelas enam sekolah dasar. Tak disangka, lebih dari delapan puluh anak datang dengan antusias untuk mengikuti kelas pertama mereka. Berbekal pengetahuan yang dimiliki, Jannah berusaha menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak yang haus akan hal-hal baru.

Jannah (berdiri di tengah memegang mic) Mengisi Kelas Bahasa Inggris di Sekolah Pesisir

Sejak hari itu, Sekolah Pesisir perlahan menjadi tempat bagi anak-anak Gotowasi untuk belajar dengan cara yang menyenangkan. Di ruang kelas itu, pelajaran Bahasa Inggris tak sekadar disampaikan melalui teori atau hafalan struktur kalimat. Jannah justru mengajak mereka mempraktikkan bahasa tersebut dengan memperkenalkan potensi desa mereka sendiri.

Di hari-hari selanjutnya, kegiatan belajar berkembang ke berbagai hal lainnya. Anak-anak diajak mengenal literasi lingkungan melalui pemutaran film dokumenter, diskusi tentang alam, hingga turun langsung ke pantai untuk membersihkan kawasan mangrove.

Saat ini, Sekolah Pesisir juga telah memiliki perpustakaan mini yang diisi buku-buku hasil donasi Pustaka Rimba Halmahera. Kehadiran buku-buku tersebut menjadi jendela kecil bagi anak-anak di pelosok Gotowasi untuk mengenal hal-hal yang mungkin belum pernah mereka temui secara langsung.

Dari ruang belajar sederhana itu, perubahan perlahan mulai terlihat. Anak-anak tingkat sekolah dasar kini mulai percaya diri menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dan memperkenalkan potensi desa mereka. Bagi anak-anak tingkat SMA dan pemuda setempat, pembelajaran Bahasa Inggris yang mereka peroleh mulai membuka kesempatan baru untuk menjadi pemandu lokal bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Gotowasi.

Bahkan, dua alumni Sekolah Pesisir kini tengah melanjutkan perjalanan mereka dengan menempuh studi Sastra Inggris di perguruan tinggi. Langkah keduanya menjadi gambaran bahwa kesempatan belajar yang mereka dapatkan di Sekolah Pesisir bisa membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.

Para murid dan pengajar di Sekolah Pesisir

Meski begitu, Jannah mengatakan bahwa ia tak ingin menjadikan Sekolah Pesisir menjadi lembaga pendidikan sekolah formal. Ia ingin ruang belajar ini tetap seperti apa adanya saat ini, menjadi pelengkap pendidikan yang diterima anak-anak di sekolah, seperti yang pernah dikatakan salah seorang wali murid Sekolah Pesisir. 

“Kegiatan-kegiatan di Sekolah pesisir bagus untuk anak-anak belajar dan bantu orang tua juga dalam memastikan anak-anaknya tidak hanya bermain saja, tapi juga ada ilmu yg dipelajari. Selama ini kegiatan anak-anak setelah sekolah cuman banyak bermain, makanya pas Sekolah Pesisir ada itu sangat bagus karena bisa jadi tempat belajar sekaligus bermain anak-anak yang lebih positif,” tutur Kak Santi yang merupakan salah satu orang tua murid Sekolah Pesisir. 

Apresiasi semacam itu yang membuat Jannah ingin tetap mempertahankan identitas Sekolah Pesisir. Di ruang-ruang kelasnya, anak-anak bisa datang dengan sukarela sepulang sekolah, bertanya, mencoba hal baru, dan belajar bersama dengan cara yang menyenangkan.

Mendengar cerita Jannah, ketulusan para pengajar yang terus berbagi ilmu, serta semangat anak-anak Gotowasi dalam menyambut setiap kesempatan belajar, hati kami terasa hangat. Kisah  ini mengingatkan kami bahwa kesempatan belajar bisa dimulai dimana saja. Dari Sekolah Pesisir di Gotowasi, mimpi-mimpi itu tumbuh  menuju masa depan yang mereka harapkan.***

Tentang Insan Bumi Mandiri 

Insan Bumi Mandiri (IBM) merupakan sebuah lembaga filantropi yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat untuk membangun pedalaman Indonesia. Berdiri sejak 2016, IBM telah berhasil menyelenggarakan 1.004 program dan membantu lebih dari 163.792 masyarakat pedalaman Indonesia. Kami selalu percaya, langkah kecil bersama anda, #PartnerKebaikan, akan mendatangkan kebaikan untuk saudara-saudara kita di pedalaman. Berbagai persoalan, seperti akses transportasi, infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan bisa kita benahi bersama. Informasi lengkap bisa dilihat di insanbumimandiri.org