Tentang IBM

Perjalanan Warga Kadubojong Menuju Air Bersih yang Lebih Dekat

Di Kampung Kadubojong, hari belum benar-benar dimulai sebelum ada satu perjalanan yang harus ditempuh. Dengan membawa ember dan jeriken kosong, warga melangkah menyusuri jalan setapak sejauh dua kilometer untuk mendapatkan air bersih yang akan mereka gunakan sepanjang hari.

Bagi sebagian orang, dua kilometer mungkin hanya jarak singkat di peta. Namun bagi warga Kampung Kadubojong, Desa Parungkujang, Kabupaten Lebak, Banten, itu adalah rutinitas yang harus dijalani setiap hari. Tentu, dengan medan yang tidak selalu bersahabat.

Saat musim hujan datang, jalan setapak berubah menjadi lintasan licin yang bercampur tanah. Setiap langkah harus diperhitungkan agar tidak terpeleset. Di tengah kondisi itu, warga tetap berjalan karena tidak ada pilihan lain ketika kebutuhan air menjadi sesuatu yang mendesak.

Air tidak hanya dibutuhkan untuk minum, tetapi juga untuk mandi, memasak, dan mencuci. Dalam kondisi tertentu, warga harus mengatur ulang kebutuhan harian mereka, bahkan menundanya, ketika persediaan air mulai menipis.

Mata Air Curug Ciragah

Kesulitan semakin terasa ketika musim kemarau datang. Selama dua hingga tiga bulan, sumber air dari sungai yang biasa digunakan warga perlahan mengering dan tidak dapat diandalkan kembali. Dalam kondisi ini, warga mencari alternatif dengan memanfaatkan mata air di Curug Ciragah.

Kondisi air dari Curug Ciragah yang diambil menggunakan selang

Di Kampung Kadubojong, air dari mata air Curug Ciragah sebenarnya cukup melimpah. Namun, untuk bisa sampai ke rumah warga, air itu harus “ditarik” menggunakan selang sepanjang kurang lebih 500 meter. Masalahnya, tidak semua warga memiliki selang sepanjang itu. Akibatnya, selang menjadi barang yang harus dipinjam, dipakai bergantian, dan kadang tidak selalu tersedia saat dibutuhkan.

“Airnya sebenarnya bagus, jernih, dan bisa diminum,” ujar Ibu Yuli (45), ibu rumah tangga warga Kampung Kadubojong. “Tapi yang berat itu bukan airnya… yang sulit itu justru cara ngambilnya.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan. Menurutnya, keterbatasan selang membuat air tidak bisa diakses kapan saja. Warga harus menunggu giliran atau menyesuaikan dengan orang lain yang juga sedang menggunakan.

“Kalau dibilang solusi, belum ya… tapi untuk sementara bisa bantu,” tambahnya.

Air yang Harus Dibeli Saat Tidak Ada Pilihan

Ketika musim kemarau datang atau akses air dari sungai dan selang tidak memungkinkan, sebagian warga terpaksa membeli air dari tetangga yang memiliki sumber lebih dekat. Setidaknya belasan keluarga di Kampung Kadubojong masih menjalani kondisi ini.

“Kalau sudah benar-benar tidak ada air, ya mau tidak mau harus beli. Bisa keluar Rp50.000 per bulan untuk air,” kata Pak Ahmad (52), buruh harian warga setempat, sambil duduk beristirahat setelah bekerja. Ia tidak menutupi bahwa air masih menjadi beban tambahan dalam hidup sehari-hari.

Akses yang Membaik

Bertahun-tahun menghadapi keterbatasan air bersih, warga Kampung Kadubojong terus menjalani keseharian dengan berbagai cara untuk mendapatkan air. Kondisi ini perlahan menjadi perhatian, hingga kebutuhan mereka mulai tersampaikan melalui berbagai pihak yang kemudian mendorong adanya upaya kolaboratif untuk mencari solusi.

Dari proses tersebut, sebuah sumur akhirnya dibangun tidak jauh dari permukiman warga, dengan jarak sekitar 100 meter dan akses yang jauh lebih mudah dijangkau. Sumur tersebut merupakan hasil kolaborasi PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (PT KPEI) bersama Insan Bumi Mandiri (IBM) sebagai mitra pelaksana, dalam upaya meningkatkan akses air bersih di Kampung Kadubojong.

Sumur yang dibangun di wilayah Kampung Kadubojong

Kehadiran sumur ini memberikan kemudahan bagi warga Kampung Kadubojong yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih, khususnya bagi para ibu yang tinggal di sana. Waktu yang dulu habis hanya untuk mengambil air, kini bisa dialihkan untuk pekerjaan lain di rumah.

Raut kebahagiaan warga Kampung Kadubojong ketika mencuci di sumur

Perjalanan panjang warga Kampung Kadubojong dalam mendapatkan air bersih perlahan tidak lagi menjadi rutinitas utama. Namun, kondisi itu belum sepenuhnya menghapus cara lama yang sudah dijalani bertahun-tahun.

Kehadiran sumur kini memberikan alternatif yang lebih dekat dan mudah dijangkau. Di tengah perubahan itu, warga mulai menata ulang kebiasaan sehari-hari mereka dalam menggunakan air yang lebih layak. Meski belum merata dan belum sepenuhnya menghapus kesulitan yang ada, perubahan ini menjadi langkah awal menuju kondisi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.